Kalian lagi belajar bahasa Jepang? udah hafalin tata-bahasa (文法 Bunpou), kosakata kanji-nya, tapi selalu kesulitan untuk berbicara bahasa Jepang, nonton konten orang jepang native ngomong kalian gak paham sama sekali.
Jangan khawatir sebenarnya permasalahan-nya bukan pada diri kalian.
Kita bahas langsung to the point aja.
Pertama kita perlu pahami dulu “Bagaimana kita sebagai manusia memahami bahasa?”
Apakah kalian dulu baru lahir langsung disuruh hafal tata-bahasa Indonesia?
Jawaban sebenarnya berdasarkan penemuan Linguistik Modern setelah tahun 1980-an: kita sebagai manusia hanya bisa memahami bahasa melalui paparan secara terus menerus dari input yang dapat kita mengerti, dalam kata lain “Comprehensible Input”.
Kita Gali Masalah Utama-nya
Yang selama ini kalian lakukan hafalin tata-bahasa (文法 Bunpou), kosakata kanji, dll itu merupakan Metodologi Tradisional (sering disebut Grammar-Translation Method) yang sudah tertinggal sebelum tahun 1980-an.
Ketika seorang ahli Bahasa bernama Profesor Stephen Krashen dari University of Southern California memperkenalkan teori bahasa baru yaitu Natural Approach dan Input Hypothesis yang menjadi dasar dalam Linguistik Modern.
Permasalahan yang sebenarnya bukan pada diri kalian, tetapi pada metode pembelajaran yang kalian gunakan.
Metode Tradisional sebelum tahun 1980-an sangat menekankan pada pembelajaran sadar (learning) pada penghafalan tata-bahasa, dan latihan secara terus menerus dengan harapan suatu saat kalian akan bisa berbicara kaiwa bahasa Jepang secara fasih.
Memang dalam sesaat membantu kalian bisa berbahasa Jepang, tetapi kenyataannya tidaklah semanis itu.
😄 Yang Ditawarkan Metode Tradisional:
- Membantu kalian kalian berbahsa Jepang dalam cangkupan konteks yang terbatas dan sementara.
- Banyak penerepan dalam text book, guru tutor, lembaga Kursus dan LPK yang menawarkan solusi sesaat.
☹️ Realita-nya di Lapangan:
- Kesusahan dalam mengekspresikan konteks yang rumit dalam bahasa ke-2 yang dipelajari (bahasa Jepang).
- Membutuhkan proses translasi dalam kepala yang rumit, sehingga kesulitan memahami dan berbicara bahasa Jepang.
- Keterbatasan konteks, dan kesulitan merespon secara alami dalam situasi yang rumit.
- Pengungkapan bahasa yang monoton, sehingga cara berbicara kalian terkesan baku dan kaku.
Dan sekalipun jika ada yang fasih berbahasa Jepang (selain native), biasanya mereka telah melalui proses dimana kesehariannya secara tidak disadari menerima Input yang konsisten dalam Bahasa Jepang itu sendiri.
Inilah yang menjadi dasar pondasi dalam Linguistik Modern setelah tahun 1980-an.
Yang membuat kita manusia dapat mengerti dan memahami bahasa adalah paparan input yang dapat kita pahami +1 Input Baru secara terus menerus dalam waktu periode tertentu (Comprehensible Input I+1) sehingga membentuk Intuisi berbahasa Jepang secara alami di alam bawah sadar.
Bukan karena kalian hafal tata-bahasa (文法 Bunpou), kosakata kanji, dll.
Comprehensible Input
Comprehensible Input atau yang saat ini sering diistilahkan sebagai Immersion merupakan proses pembelajaran bahasa yang sama persis seperti kalian dulu belajar bahasa Indonesia.
Apakah kalian masih ingat masa kecil kalian, yang dulu terasa menyenangkan tanpa banyak pikiran?
Inilah proses yang kita pernah lalui bersama sehingga kita secara intuitif bisa memahami bahasa Indonesia dengan mudah.
Hal inilah pondasi utama dalam Linguistik Modern setelah tahun 1980-an.
Sebuah proses akuisisi bahasa dimana mendapatkan paparan “Input” di lingkungan yang rendah tekanan dan stress.
Formula kemampuan Berbahasa Jepang (Intuisi):
Dengan paparan Comprehensible Input dalam periode tertentu kita akan membentuk Intuisi berbahasa Jepang sama prosesnya seperti kita dahulu belajar bahasa Indonesia.
Sehingga kemampuan berbahasa Jepang akan terbentuk secara intuitif, dan dapat merasakan bahasa Jepang yang benar dan salah melalui Intuisi bukan oleh karena penghafalan tata-bahasa dan translasi yang menguras mental kalian.
Tentu proses pembentukan Intuisi ini bukan dalam satu hari satu malam bimsalabim jadilah candi prambanan, tetapi membutuhkan rutinitas proses yang panjang.
Adakah bayi yang baru lahir dapat berbahasa Indonesia secara fasih? Tentu tidak, semua manusia melalui proses pembentukan Intuisi yang didukung oleh lingkungan sekitar dan orang tua mereka, dalam mendapatkan paparan Comprehensible Input.
Bayi pun butuh waktu 1-2 tahun hanya mendengar sebelum mengucapkan kata pertamanya. Tapi kita sebagai orang dewasa, yang memiliki prior-knowdlage ditambah dengan konsistensi yang cukup kita dapat membentuk Intuisi berbahasa Jepang jauh lebih cepat.
Karena kami telah membuktikan-nya sendiri dengan metode yang tepat:
- “The Doth” yang berhasil mencapai JLPT N1 dalam 438 Hari
- “Esoftie” (member Komunitas GoRakuDo) yang berhasil mencapai JLPT N1 dalam waktu kurang dari setahun
😄 Benefit dari Comprehensible Input:
- Kalian dapat berbicara kaiwa bahasa Jepang secara natural dan alami pada waktunya (Setelah melalui Silent Period).
- Percakapan bahasa Jepang kalian akan mengalir secara intuitif, layaknya penutur asli bahasa Jepang. Tidak membutuhkan translasi dalam kepala.
- Lebih menyenangkan karena semua proses berbahasa Jepang terjadi di alam bawah sadar (oleh Model Intuisi Bahasa Jepang yang telah kalian bentuk).
- Belajar lebih menyenangkan dari Kontent Material Native Jepang (Anime, J-Drama, YouTube, dll.).
- Gratis tidak membutuhkan biaya khusus atau Guru LPK. Semua materi native Jepang tersebar luas di internet dan bisa kalian akses kapan saja.
🤔 Penerapan Comprehensible Input:
- Membutuhkan waktu yang panjang, dan rutinitas yang konsisten untuk membentuk Intuisi berbahasa Jepang yang solid. Tidak ada jalan pintas dalam membentuk Intuisi secara alami.
- Pembelajaran dilakukan oleh diri kalian sendiri, terkadang terasa membosankan. Tetapi kita memiliki komunitas aktif yang mendukung kalian 24 jam kapanpun.
- Tidak ada Guru atau Sensei yang mendikte dan mengajari, kalian wajib membakar tungku motivasi kalian sendiri dalam membentuk Intuisi berbahasa Jepang secara alami.
Membentuk Intuisi berbahasa Jepang Secara Alami
Tujuan utama kalian dalam belajar bahasa Jepang adalah menjadi “plagiat penutur asli bahasa Jepang”.
Menurut Wikipedia, plagiat adalah “merepresentasikan bahasa, pemikiran, ide, atau ungkapan orang lain sebagai hasil karya pribadi yang sah”. Karena pada awalnya sebelum kita dapat mengekspresikan ide, pemikiran kita sendiri (semasa kecil kita) sering “meniru” entah dari orang tua atau teman sekitar.
Itulah awal mulanya kemampuan kita dalam membentuk Intuisi berbahasa Indonesia. Begitu pula dengan bahasa Jepang.
Dan POINT UTAMA-nya adalah:
Kita tidak akan bisa meniru apa yang kita tidak ketahui.
Dalam fase tahapan awal belajar bahasa Jepang, sebagian besar banyak kata-kata yang belum kita pahami.
Maka itu kita mengambil pendekatan yang sebaliknya, yaitu sebisa mungkin menunda segala OUTPUT dalam bahasa Jepang seperti berbicara, dan tulis-menulis yang disebut dengan Silent Period.
Ini posisi dimana semasa kita bayi tidak bisa berbicara, tetapi mulai dengan memahami lingkungan sekitar dan membentuk Intuisi berbahasa Jepang.
🌊 Jadi Kesimpulan-nya:
Bayangkan jika kalian ingin belajar berenang, Metode tradisional itu seperti kalian baca ratusan buku teori gaya bebas, cara mengapung, dan fisika air, tapi kalian sama sekali gak pernah masuk ke kolam renang.
Begitu juga dengan bahasa Jepang, sebanrnya kalian gaperlu sama sekali itu “buku manual”-nya (tata bahasa).
Mulai “masuk ke dalam air dan rasakan glombang-nya” dengan materi Native Jepang yang Comprehensible Input.
Biarkan diri kalian terbiasa dengan “suasana” bahasanya, maka secara alami kalian akan mulai bisa “berenang” di dalamnya.
![Formula kemampuan Berbahasa Jepang (Intuisi ≈ [Comprehensible INPUT (i+1) × Waktu Paparan Bermakna] ÷ Filter Afektif)](/images/docs/rumus-intuisi_lab7fs.webp)